jejak kakiku : manhoru mania

Ada resensi sebuah buku yang sangat menarik perhatian saya (membuat saya mengenang Jepang-lagi- maksudnya). Judul buku itu adalah Drainspotting: Japanese Manhole Covers , dikarang oleh Remo Camerota. Dikisahkan, Jepang memulai system sewer modern pada akhir abad ke-19, meskipun ada bukti-bukti yang menguatkan bahwa Jepang telah mengenal system sewer lebih dari 2000 tahun yang lalu. Di Jepang, 95% dari 1.700-an kota mempunyai tutup manhole yang berdesain unik. Desain itu beragam, dari yang menceritakan identitas budaya kota, flora, fauna, landsekap kota, landmarks, festival setempat, dan atraksi wisata. Dalam buku ini, Remo Camerota memotret keunikan desain manhole di kota-kota di Jepang sebagai salah satu budaya visual komtemporer Jepang (http://www.gwarlingo.com/2011/drainspotting-61-amazing-manhole-covers-from-japan/). Dan, di sini saya menulis sebagai salah satu orang yang terkena demam karena fenomena manhoru (manhole) mania… inilah jejak kaki saya ^-^

Image

Desain tutup ini menggambarkan kawasan Dotonbori di Osaka. Osaka terkenal sebagai kota kuliner yang berpusat di kawasan Dotonbori. Kawasan ini selalu muncul di top list tempat yang harus dikunjungi jika anda berada di Osaka. Selain merupakan pusat makanan khas Osaka (seperti okonomiyaki dan takoyaki), landmark kawasan yang berupa kanal sungai Dotonbori juga spot yang selalu muncul di fitur dan brosur wisata. Kanal Dotonbori semakin meriah dengan pemandangan di sisi kanan dan kirinya yang merupakan restoran-restosan dan pusat hiburan, tak ketinggalan juga papan-papan iklan dan neon sebagai penanda.

Image

“wujud kanal Dotonbori, summer 2012”

Image

Walrus di akuarium Otaru (akuarium terbesar di Hokkaido) merupakan salah satu atraksi wisata di Otaru menjadi salah satu ikon yang diabadikan di atas tutup manhole ini. Akuarium ini memiliki penghuni tetap, seperti walrus, penguin, anjing laut, ikan, serta hewan laut lainnya. Bangunan utama dihuni kurang lebih 5.000 makhluk laut dari 250 jenis spesies, terutama yang hidup di Hokkaido dan daerah kutub. Sedangkan pada bangunan lain, yaitu Taman Mamalia Laut, dihuni oleh 150 mamalia laut dari 13 jenis spesies.

Image

Di luar perkiraan! Saya membayangkan atraksi wisata utama di Sapporo ini berstruktur megah dan  mudah ditemui. Ternyata, bangunan ini relatif kecil dan tenggelam di antara bangunan-bangunan beton yang berada di Chuo-1 dan Chou-2 Doori, Sapporo. Tokeidai (Menara Jam), yang dibangun di awal perkembangan kota Sapporo (1878), adalah bangunan tertua dan simbol dari Sapporo. Bangunan dengan arsitektur colonial American Midwest dan struktur kayu pada awalnya difungsikan sebagai drill hall sekolah pertanian Sapporo (Sapporo Agricultural College), sekarang Universitas Hokkaido. Pada tahun 1881, sebuah jam yang dibeli dari Boston dipasangkan pada menara bangunan tersebut). Saat ini, Tokeidai difungsikan sebagai museum perkembangan dan sejarah Sapporo. Pada tahun 1970, Sapporo Tokeidai dikukuhkan menjadi Important Cultural Property dan Mechanical Engineering Heritage of Japan pada tahun 2009.

Image

“Tokeidai, Summer 2012”

Desain tutup manhole lainnya :

“Lansekap Kobe, Nagoya, Shizouka di atas tutup manhole”

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

“Gion Kyoto”

Terinspirasi oleh keunikan tutup manhole, maka sepulang dari Jepang berburu tutup manhole unik menjadi agenda rutin. Belum banyak yang saya temukan. Sejauh ini, hanya yang ada di Surabaya yang eye-catching. Ada identitas kota dan lambang kotanya.

foot

— drainspotting : wishlist ! —

The Geography of Bliss

Image

ISBN : 9786029225273
Pengarang : Eric Weiner
Penerbit : Qanita
Penerbitan : November 2011
Halaman :  512

Haissssss… buku ini….sebenarnya menyenangkan, namun…

Weiner memulai perjalanan mencari makna kebahagian berdasarkan database World Database of Happiness (WDH) Ruut Veenhoven. Dia terobsesi untuk menyusun atlas kebahagiaan dan peta jalan kebahagiaan berdasarkan WDH dan intuisinya, tentu saja.

Aroma kebahagiaan menerbangkan Weiner ke Swiss. Hasil dari perjalanannya di Swiss, Weiner menarik kesimpulan bahwa orang Swiss adalah bangsa yang kompeten dan efisien, sehingga mereka sering dikatakan “sembelit secara cultural” dan “kikir informasi”, karena orang Swiss sendiri berpendapat kalau kita menginformasikan sesuatu kepada orang lain (seperti jadwal kereta), hal itu termasuk dalam kategori mengasumsikan orang lain bodoh. Beberapa sumber kebahagiaan di sana adalah kebersihan, tidak iri, dan kepercayaan. Bahwa uang memicu rasa iri, dan iri merupakan penyakit masyarakat, maka kebahagiaan a la Swiss adalah jika punya barang, sembunyikan. Berbeda halnya dengan a la Amerika : anda punya barang, pamerkan!

Kontradiktif dengan their very punctual swiss-made watches, orang-orang Swiss tahu benar bagaimana cara berbahagia dengan berlambat-lambat untuk menikmati hari, seperti yang diungkapkan oleh teman Weiner, “Mungkin kebahagiaan adalah dengan tidak merasa Anda harus berada di suatu tempat lain, melakukan sesuatu yang lain, dan menjadi orang lain.” Banyak hal yang bisa menggambarkan kebahagiaan a la orang Swiss, sampai-sampai itu dirasa perlu untuk menemukan istilah baru untuk mendeskripsikan kebahagiaan a la orang Swiss.

Bhutan memiliki kebijakan Kebahagiaan Nasional Bruto (sejak tahun 1973, sebuah gagasan yang dikemukan oleh Raja Bhutan Wangchuk), yang mempunyai tujuan untuk melengkapi ukuran kemajuan yang konvensional (produk nasional bruto). Kebahagiaan Nasional adalah sesuatu yang kolektif, bersama-sama. Frase “kebahagiaan pribadi” merupakan hal yang tidak masuk akal bagi penduduk Bhutan, karena menurut mereka semua kebahagiaan itu berhubungan.

Di Qatar, kebahagiaan adalah menang lotre. Ya…menang lotre dan mungkin membelikan uang lotere tersebut Mercedes (Weiner bergurau bahwa 98,09 wilayah Qatar adalah gurun pasir, sedang 1,91 % nya adalah Mercedes. Lantas cerita-cerita tentang relasi kebahagiaan dan kekayaan mewarnai perjalanan Weiner di Qatar. Saking kayanya, Emir Qatar sampai bertekad membeli budaya asli Qatar (yang hilang dalam kurun waktu seribu tahun/ 650-1650 M).

Islandia, sebuah negara tetangga kutub utara merupakan negara dengan penduduk yang paling bahagia (setidaknya menurut pengakuan penduduknya), meskipun jam gelap lebih panjang daripada jam terang, matahari kadang diramalkan tidak akan muncul hari ini…namun negara ini benar-benar aman.

Berbeda dengan Moldova yang muram. Dahulu, sebagai negara bagian Uni Soviet, Moldova lebih makmur dibandingkan dengan Moldova merdeka. Ternyata demokrasi di Moldova tidak lebih baik daripada Moldova sebagai bagian dari Uni Soviet. Orang Moldova merasa sangat miskin (kemiskinannya terasa lebih kronis, kala mereka membandingkannya dengan negara tetangganya yang jauh lebih makmur, Jerman dan Italia). Sampai-sampai muncul anekdot “so Moldova….” (so dark, gloomy, and twisted …). Tur Weiner kemudian berlanjut ke Thailand, Inggris Raya, India and negara asalnya, Amerika Serikat.

Buku ini lebih menceritakan karakter warga sebuah negara. Kadang terbaca naïf karena generalisasi yang dibuat oleh Weiner. Ketertarikan saya melanjutkan membaca buku ini adalah karena deskripsi geografisnya yang detail dan gerutuan Weiner ^-^….meskipun dalam versi bahasa Indonesianya terasa “kriuk” (saking garingnya). Membacanya dalam versi Bahasa Indonesia terasa sedikit tersendat dan “menyakitkan” karena kemungkinan translasinya belum bisa memberikan rasa bahasa yang sama dengan bahasa aslinya. I am so moldooova … 

9 dari Nadira

nadira

ISBN :   9789799102096 (KPG, 2009)
Pengarang :   Leila S. Chudori

Sesuai dengan judulnya, buku ini merangkai sembilan cerita pendek menjadi sebuah cerita yang saling melengkapi, dengan tokoh utama Nadira. Kesembilan cerita pendek itu adalah : Mencari Seikat Seruni, Nina dan Nadira, Melukis Langit, Tasbih, Ciuman Terpanjang, Kirana, Sebilah Pisau, Utara Bayu, At Pedder Bay.

“Mencari Seikat Seruni” diawali dengan kematian ibu Nadira (Kemala Yunus) yang mendadak dan misterius. Kesukaan sang ibu akan bunga seruni, menggerakkan langkah Nadira untuk mencari seruni ke seluruh penjuru kota, dengan ditemani oleh Utara Bayu. Demi mendapatkan bungan seruni yang akan ditaburkan di atas pusara ibunya, bukan bunga mawar, ataupun melati.

Hubungan kakak-adik diceritakan di bagian “Nina dan Nadira”. Di sini diceritakan bahwa hubungan keduanya mengalami pasang-surut. Kebanyakan surut, karena Nadira merasa sering disiksa Yu Nina sejak kecil. Disiksa dalam pengertian batiniah : dituduh mencuri karena mendapatkan uang saku tambahan, imbalan menulis cerita pendek anak. Disiksa secara fisik – Yu Nina berulang kali menghukum adiknya dengan memasukkan kepala Nadira ke dalam jamban yang berisi air seni, pada saat Yu Nina menuduh Nadira mencuri -. Kenangan ini terbawa sampai mereka tumbuh dewasa.

Saya membayangkan Nadira dan hidupnya berwarna abu-abu, lembab, dan jarang didatangi kehangatan sinar matahari. Sekian lama Nadira tinggal dan tidur di bawah kolong meja kerjanya, bermimpi buruk, dan kenangan-kenangan masa lalu yang terus menghantuinya.

Bagi saya, Leila bercerita dengan menggunakan kalimat-kalimat yang rumit, namun membuat saya tidak ingin berhenti membacanya. Diksinya sophisticated dan “kelabu” tentunya. Tapi bonusnya adalah setting cerita di Amsterdam, Victoria (British-Columbia, Kanada), Paris, New York, dan beberapa kota di Indonesia. Membuat saya berkelana dalam mendung…

happy belated anniversary

Bapak mengajarkanku pentingnya sebuah keteraturan dan konsistensi. 

Dari ibu, aku belajar bahwa cermat dan teliti adalah hal yang penting dalam hidup. 

Dari keduanya aku belajar “urip sak-madya” akan lebih memberikan ketenangan hidup, pun aku belajar bahwa sebuah pernikahan bukanlah satu pihak harus menjadi pihak yang lain, dua manusia adalah dua karakter, dua watak, dua cara berpikir, dan dua sifat. Pria selamanya akan menjadi makhluk paling egois bagi wanita, sebaliknya wanita akan selalu menjadi makhluk yang paling tidak mudah dimengerti oleh pria. 

Hanya kesabaran dan saling memahami satu antara lainnya yang diperlukan, bahwa tidak harus “api” dipadamkan dengan “air”. 

Selamat Ulang Tahun Pernikahan yang ke-36 untuk Bapak dan Ibu. Salam rindu dari anakmu…

 

PF. 06 Agustus 1976 
06 Agustus 2012

Ichikawa, 07 Agustus 2012, catatan yang sama seperti tiga tahun yang lalu

Ibubpk

 

Festival Tanabata

Lagu tanabata:

ささのはさらさら, のきばにゆれる,おはしさまきらきら,ぎんぎんすなご,

ごしきのなんざく,わたししがかた, おはしさまきらきら,そらからみてる

daun bambu tertiup angin, dan menyapu atap, bintang berkelap-kelip, seperti pasir berwarna emas dan perak

di atas kertas berwarna-warni, kutuliskan harapanku, bintangpun berkelap-kelip, memandangku dari langit

Orihime dan Hikoboshi

Img_2402

Festival Tanabata di Jepang berakar dari Festival QiXi Cina. Festival ini dirayakan pada tanggal 7 Juli, dan merupakan hari libur nasional di Jepang. Kurang berasa libur, karena tahun ini, tanabata jatuh pada hari Sabtu. Banyak versi tentang legenda tanabata ini, namun saya akan menceritakan kembali versi tanabata yang disampaikan oleh Sensei di kelas Nihongo minggu lalu.

Alkisah, Ten-kou, dewa langit memiliki seorang putri yang sangat rajin bekerja. Namanya Orihime (“ori” berarti menenun, “hime” artinya puteri). Orihime tidak pernah libur bekerja, setiap saat dia hanya menenun baju untuk dewa-dewa di langit. Sampai suatu waktu, Ten-kou merasa khawatir, karena Orihime hanya bekerja, bekerja, dan bekerja. Akhirnya dia memperkenalkan Orihime dengan seorang pemuda yang tinggal di seberang sungai Amanogawa (Milky-way), Hikoboshi (“hiko” adalah penggembala, “boshi” adalah bintang) namanya. Hikoboshi juga seorang pekerja keras, dia menggembalakan sapi. Love at first sight, itulah yang dialami oleh Orihime dan Hikoboshi. Singkat kata, mereka akhirnya menikah.

Namun mereka lantas melupakan pekerjaan mereka, karena selalu menghabiskan waktu berdua. Dewa-dewa di langit tidak lagi berbaju bagus, sapi-sapipun menjadi kurus. Melihat ini Ten-kou menjadi marah, dan melarang mereka berdua untuk bertemu lagi. Orihime dipisahkan dari Hikoboshi . Tangis membuat sungai Amanogawa yang memisahkan mereka semakin lebar. Mereka menjadi sedih dan tidak bisa melanjutkan pekerjaan mereka. Ten-kou akhirnya menyesal, dan memberi syarat pada mereka berdua : jika dalam setahun mereka bekerja keras, maka mereka berdua bisa bertemu sekali dalam setahun di tanggal 7 Juli, pada saat bulan separuh. Bulan separuh diibaratkan perahu untuk mereka naiki dan bersama dalam sehari itu.

Pada festival ini, orang Jepang biasanya berharap malam akan cerah, sehingga mereka berdua bisa bertemu. Harapan mereka biasanya ditulis dan digantungkan di pohon bamboo. Pada festival tanabata modern, banyak orang yang menuliskan harapan mereka sendiri, dan menggantungkannya di pohon bamboo.

Img_2443Img_2542Img_2426

Di Tokyo, toko-toko dan pusat perbelanjaan biasanya menyediakan pohon bamboo dan tempat untuk menuliskan harapan, serta mendekorasi toko mereka dengan berbagai macam hiasan yang cantik.

Img_2419Img_2468Img_2474Img_2496

Sedangkan pusat perayaannya berlokasi di Kappabashi dori, dekat Asakusa.

Img_2501Img_2486Img_2392Img_2472Img_2536

Sabtu pagi kali ini mendung, dan hujan mengguyur Tokyo sampai malam. Sepertinya Orihime dan Hikoboshi tidak bisa bertemu di Tokyo karena hujan membuat Amanogawa meluap dan tidak bisa diseberangi. Mungkin mereka bertemu di langit kota lain? Teman saya di Yokohama bilang, Sabtu ini cerah di sana… jadi Orihime dan Hikoboshi tidak perlu menunggu setahun untuk bertemu J.

Iriya dan asagao

Iriya, mungkin area ini kalah pamor dengan area-area lain di sekitarnya : Asakusa, Ueno, Okachimachi, dan Akihabara.  Di peta wisatapun jarang sekali sebutkan. Sensei bahasa Jepang-lah yang menginformasikan ada festival menyambut musim panas di Iriya.  Festival (jual) bunga Morning Glory, atau dalam bahasa Jepangnya adalah “Asagao”.

Dan akhirnya di sinilah saya,  di Iriya – sebuah fragmen kota Tokyo yang merepresentasikan kota lama , dimana sepanjang koridor Kototoi-dori masih didominasi oleh bangunan lama dengan fungsi rumah dan toko. 

Img_2318Img_2361Img_2366

Asagao, lambang dari Iriya. Asa berarti “pagi”, gao – berasal dari kata ‘kao’ – yang berarti “wajah “, jadi bunga ini hanya akan mekar di pagi hari

Img_2221

Asagao Roodo” Street of Morning Glory

Img_2297

Iriya’s alley – Jalan dan pedestrian yang hening dan damai di Iriya

Img_2286Img_2290Img_2309Img_2310

Iriya, mungkin hanya ramai dan macet ketika ada festival bunga “Asagao”. Festival ini adalah perayaan menyambut datangnya musim panas (bersamaan dengan festival Tanabata). Pengunjung festival ini didominasi oleh orang tua, meskipun tidak sedikit juga kaum muda yang datang kemari.

Img_2230Img_2238Img_2305

Berbagai macam bunga “Asagao”, rata-rata satu pot seharga 2000 yen. Asagao berasal dari daratan Cina, dan dibawa ke Jepang 1.200 tahun yang lalu. Pada awalnya asagao merupakan tanaman obat (laksatif), namun sejak periode Edo, asagao mulai dikenal sebagai tanaman dekoratif.

Img_2249Img_2262Img_2261Img_2247

– another cloudy day in Tokyo 07072012-

Shirakawago : situs warisan dunia dan tempat belajar arsitektur vernakular

Img_1818

Turan, dalam bukunya (Vernacular Architecture) mendefinisikan arsitektur vernakular merupakan arsitektur yang tumbuh dan berkembang dari pengalaman dan cara masyarakat lokal beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya, sehingga produk arsitektur bangunan mereka sangat dipengaruhi oleh faktor geografis, iklim, teknologi dan material, dan sosial budaya yang ada dan berkembang pada saat itu.  Atau dalam bahasa awamnya adalah folk architecture, indigeneous architecture, ataupun spontaneous architecture.

Img_1833Img_1835

Shirakawago yang terletak di lembah Gunung Haku, bagian utara Prefektur Gifu, Jepang merupakan salah satu kawasan preservasi arsitektur vernakular yang ada di dunia ini. Desa ini terkenal dengan arsitektur atapnya “gasshou-zukuri” (diibaratkan sebagai tangan yang terlipat untuk memanjatkan doa maupun huruf V yang dibalik)  Kemiringan dari atap yang lebih dari 60º merupakan salah satu bentuk adaptasi dari masyarakat setempat terhadap iklim setempat. Desa ini merupakan salah satu tempat yang mendapatkan hujan salju dengan intensitas yang tinggi  sehingga dengan kemiringan atap tersebut, maka salju akan lebih cepat “turun” dari atap.

Img_1752Img_1815Img_1774Img_1697Img_1733Img_1717

Repetisi, yang juga merupakan ciri khas arsitektur vernakular, nampak pada keseragaman bangunan rumah yang ada di desa Shirakawago. Bangunan seluruhnya dengan material  dasar kayu, rata-rata terdiri atas tiga sampai empat lantai, bentuk dan penempatan jendela yang juga seragam, menyerupai bentuk segitiga.

Img_1720Img_1722Img_1762Img_1780

Meskipun pertanian menjadi bagian dari kehidupan sosial-budaya mereka, namun sebagian besar penduduk Shirakawago pada saat itu bermatapencaharian sebagai pembuat peluru dan penghasil benang sutra, karena terbatasnya lahan sawah (Shirakawago terletak di pedalaman dan dikelilingi oleh gunung-gunung berlereng curam), dan sekali lagi mereka beradaptasi dengan rumah bergaya atap gasshou-zukuri. Di bawah atap gasshou zukuri, tersembunyi loteng-loteng sebagai tempat mengembangbiakkan ulat sutera.  

Shirakawago mulai menjadi perhatian dunia luar ketika Bruno Taut, seorang berkebangsaan Jerman mengunjungi tempat tersebut pada tahun 1935. Bruno Taut, yang juga berprofesi sebagai arsitek berpendapat bahwa arsitektur gassho-zukuri ini benar-benar mencerminkan adaptasi masyarakat setempat, secara logis dan rasional. Keberadaan desa ini sempat terancam dengan dibangunnya bendungan Miboro sekitar akhir tahun 1950-an. Banyak bagian desa yang ditinggalkan oleh penduduknya dan dikonvesi menjadi bangunan yang lebih modern.

Pada tahun 1971, penduduk lokal membentuk sebuah aliansi untuk tetap mem-preservasi wilayah Ogamachi dengan menyerukan semboyan ‘don’t sell, don’t rent, don’t destroy’. Tahun 1976, Pemerintah Jepang (Agency of Cultural Affairs) menunjuk Ogimachi, Shirakawago sebagai wilayah konservasi dengan struktur tradisional dan pada tahun 1995, desa ini terdaftar sebagai warisan budaya oleh UNESCO.  

source http://inhabitat.com/two-japanese-mountai-villages-are-beautiful-examples-of-…